3/24/2009

Pariwisata Bali Belum Pulih


KUTA – Apakah Anda punya kenangan berjalan-jalan di malam Minggu atau di masa liburan di Kuta, Bali? Bayangan Anda tentang suasana sepanjang pantai ini pasti agak pudar bila melihat kondisinya belakangan ini. Kuta, yang dulunya sangat ramai, akhir-akhir ini jumlah pengunjungnya berkurang.

Kuta adalah wilayah yang agak terbuka di Bali, dibanding wilayah lain, seperti Tanah Lot, Nusa Dua atau Pantai Sanur. Kuta juga dianggap sebagai tempat yang paling dekat dengan publik.
Tapi sekarang, Anda jangan lagi berharap akan mendengar lagi suara musik menghentak dari mobil-mobil yang diparkir atau yang berlalu-lalang di sepanjang pesisir, seperti sebelum terjadi peledakan Bom Bali II.
Saat ini tidak ada lagi bule-bule yang tertawa terbahak-bahak, atau bli (abang) asli Bali yang tertawa senang menyaksikannya. Di jalan-jalan pun, tak tampak lagi kemacetan lalu lintas.

Padahal, para wisatawan tak perlu lagi merasa khawatir, karena pengamanan di berbagai lokasi, seperti kafe, pub, hotel atau toko-toko suvenir yang berjajar di sepanjang wilayah ini sangat ketat. Di kafe Kama Sutra, misalnya, ketika akan masuk ke dalam, setiap pengunjung pasti akan diperiksa dengan teliti. Para petugas nampak lebih teliti dari satpam di kota Jakarta, yang biasanya hanya menyentuhkan alat sensor pada tubuh atau tas bawaan pengunjung tanpa mengecek lebih seksama.
Kendati demikian, suasana pada malam hari memang agak berbeda dengan saat siang. Pada saat cahaya matahari masih merambah pantai, suasana di sepanjang pantai Kuta terasa lebih hidup. Bule-bule yang berkeliaran–suasana khas Pulau Dewata ini–mulai berkeliling, memperhatikan sekeliling, berdialog atau berbelanja.
Seorang perempuan sedang berjemur dengan kekasihnya di bawah teriknya cahaya matahari. Di sisi pantai yang lain, agak dekat dengan restoran MC Donald, seorang bule lain sedang menunggui adik perempuannya yang dikepang rambutnya. “Nice...,” ujar si pengepang rambut sambil tersenyum kepada Michelle, bule yang berdarah New Zealand.
Barangkali, Kuta berbeda dengan Nusa Dua yang didatangi pengunjung kelas menengah ke atas, yang bisa tinggal di hotel yang lebih nyaman karena koceknya memadai. Mereka biasanya mendapat pengawasan ketat. Tidak sembarang turis bisa masuk ke sana. Kuta cenderung lebih terbuka. “Orang yang ke sini bisa turis lokal, bisa dari mancanegara,” kata IB Purwaka, General Manager di Inna Kuta Beach Hotel. Pengawasan ketat memang diberikan kepada setiap pengunjung hotel ini.

Turis Jadi Pesimitis
Tanah Lot yang termasuk wilayah sakral tak terlalu terbuka seperti Kuta. Pemandangan di sini unik, berupa pura di atas bukit karang. Pengunjung tempat ini cenderung hanya singgah sebentar untuk menyaksikan pemandangan yang indah daripada menginap.
Tapi, bagaimana pun, Kuta sangat terkait dengan wilayah lain seperti Sanur, Tanah Lot, Nusa Dua, Tabanan, bahkan Jembrana.

Dari Kuta, di bawah terik sinar matahari, pengunjung dapat melihat banyak hal. Kuta adalah sebuah wilayah wisata yang menjadi sumber perekonomian berbagai kalangan, baik orang-orang yang mendirikan restoran, pub, hotel dan kafe di wilayah itu, maupun warga masyarakat kalangan menengah ke bawah yang mencari nafkah dari sektor pariwisata. Bahkan, perusahaan jasa yang berada jauh dari pantai pun sebelumnya juga mendapatkan keuntungan dari gairah pariwisata Bali ini.
“Semua hotel di seluruh wilayah Bali pasti terkena dampak peristiwa Bom Bali II lalu. Apabila pada ledakan pertama para wisatawan justru menyabarkan dan menghibur kita, pada ledakan kedua kalinya mereka justru jadi pesimistis,” ujar General Manager Inna Kuta Beach Hotel IB Purwaka, yang mengaku hotelnya tak begitu banyak mengalami penurunan karena masih mendapatkan pengunjung turis domestik.
Menurutnya, hotel mewah, atau yang berada di wilayah Nusa Dua yang cukup terpukul atas kondisi ini. Penurunan tingkat hunian hotel bahkan bisa terjadi hingga 30%. Hampir semua hotel pada dasarnya mengalami penurunan tingkat huniannya, karena itu mereka berhati-hati dalam menerapkan harga inap dan mulai memikirkan berbagai fasilitas yang dapat menyenangkan pengunjung.
Dunia penerbangan juga terkena dampaknya. Ini terasa lewat berkurangnya kunjungan via Bandara Ngurah Rai Bali. Pihak penerbangan dari Sales Manager dari Merpati Nusantara Airlines di wilayah Bali, Vera Novita, misalnya, mengatakan, jelas terjadi penurunan persentase jumlah penumpang pasca Bom Bali II.
Maskapai Penerbangan yang antara lain juga mengangkut turis dari dan ke wilayah Singapura, Malaysia, Dili, dan Australia ini, otomatis merasakan dampaknya. Dengan animo turis yang agak surut, mereka juga harus berbagi dan bersaing dengan maskapai penerbangan lainnya.

Belajar dari Negara Lain
Warga Bali yang biasanya terlibat dalam jasa pelayanan tradisional, mulai dari pedagang cendera mata hingga pijat di pantai Kuta juga merasakan dampaknya. “Belakangan, suasana di Bali memang sepi. Kalau dulu bisa lebih dari lima orang yang saya pijat, sekarang tidak lagi,” ujar wanita tua yang biasa berkeliling dari pagi hingga senja di pinggiran pantai, di belakang Hotel Inna Kuta Bali.
Bersama kawannya yang lain, termasuk yang biasa menangani perawatan kecantikan untuk turis lokal dan mancanegara yang datang itu, ia memang telah lama bekerja di sepanjang pantai ini. Namun, di tengah sedikitnya jumlah pendatang, orang-orang itu tetap setia menyisihkan pendapatan mereka untuk pemuka adat dan para nelayan di sepanjang pantai Bali.
Dua kali bom di Bali, seruan travel warning dari beberapa negara atau isu negatif lain, seperti flu burung, membuat perlunya agenda untuk menjamin keamanan dan kenyamanan hidup di negeri ini. Antara lain diperlukan agenda bersama dari masyarakat, terutama pihak pemerintah terkait soal cara meningkatkan pariwisata di Bali.
Agenda itu antara lain menyangkut promosi dan publikasi yang dapat menjadi vitamin guna menggairahkan dunia wisata, seperti yang selama ini dilakukan negara-negara lain. Untuk itu, pemerintah harus belajar dari negara-negara lain yang pernah mendapat predikatnegara yang sering didera bom.
Kita perlu belajar dari cara mereka mengantisipasinya.
Turis lokal sebaiknya tidak trauma ke Bali, walau tetap harus berhati-hati. Kehati-hatian itulah yang telah dilakukan oleh para wisatawan di Kuta. Pengunjung lokal, bahkan sempat terlihat menasehati penjaga keamanan dan satpam di sebuah hotel, karena mereka tidak memeriksa secara ketat sebagaimana mestinya.
Semoga catatan buruk ini akan berubah menjadi baik saat menjelang akhir tahun. Kita mengharapkan ucapan seorang turis bule di sebuah wilayah di Bali yang kembali terdengar di telinga seorang penduduk yang tengah memberikan sesajian bunga di pura kecil depan rumahnya, “Merry Christmas and Happy New Year, Bu.”
Bagaimana pun, Bali adalah wilayah wisata yang penting sebagai penghubung turis ke wilayah lain seperti Sumatera (Danau Toba atau Danau Maninjau), pantai Maluku, Taman Laut Bunaken atau Papua. Oleh karena itu, solusi untuk meningkatkan aset wisata di negara ini harus terus dicari. Selain itu, ini demi menyambung hidup masyarakat Bali, termasuk hidup kelas menengah ke bawah yang tetap harus mencari lembaran rupiah di sekitar wilayah Sanur, Tanah Lot hingga Kuta. (*)


Copyright © Sinar Harapan 2003


Oleh
Sihar Ramses Simatupang

0 komentar:

Post a Comment