3/24/2009

Merasakan ”Indonesia” di Taman Bumbu Restaurant


JAKARTA – Suasana masih sepi ketika SH memasuki Taman Bumbu Restaurant di Millenium Hotel, Jakarta, pada Kamis (12/4). Maklumlah, waktunya makan siang belum tiba. Hanya ada beberapa pelayan restoran yang sibuk hilir mudik mempersiapkan makanan buffet untuk siang itu. Tapi, tak lama kemudian, restoran yang khusus menyajikan masakan khas dari berbagai daerah di Indonesia ini mulai ramai.

Setidaknya, begitulah suasana Taman Bumbu pada setiap siang hari. Bukan hanya sekadar tamu hotel yang berkunjung, tapi juga orang-orang yang berasal dari kantor-kantor di daerah Fachruddin, Tanah Abang. Taman Bumbu seringkali menjadi alternatif untuk makan siang di daerah tersebut. Selain termasuk murah untuk ukuran hotel (Rp75.000/nett per orang), tempat yang disediakan pun nyaman.


Sebelumnya, restoran ini bernama Kafe Sirih. Namun pimpinan baru mereka yang mengetahui seluk-beluk food and beverage (f&b) melihat hal lain yang bisa dikembangkan dari restoran-restoran yang terdapat di Millenium Hotel. ”Karena pengalamannya yang lama di dunia f&b, target market yang ada di hotel ini sekarang sepertinya akan cocok dengan tema Indonesia. Saya sampaikan opsi, Indonesia akan dibagi menjadi tiga belahan, barat, tengah, dan timur,” papar Bobby Siswara, Food and Beverage Director Millenium Hotel, Sirih, Jakarta. ”Selama saya bergabung di hotel ini, tamu yang datang berasal dari berbagai pulau, ada yang dari Irian, Nusa Tenggara Timur, dan Lombok. Dari situlah ide ini muncul,” lanjutnya.
Dengan demikian, para tamu yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dapat menerima makanan yang terdapat di restoran yang buka dari pukul 6.00 hingga 22.00 ini. Pengunjung yang berasal dari Jawa Barat misalnya dapat menikmati hidangan ikan gurame dari daerah Sunda, dari daerah timur dapat menikmati ayam taliwang, dari daerah barat, disediakan rendang khas Sumatra Barat.
Tak hanya itu, di restoran ini pengunjung akan menemukan makanan khas dari beberapa daerah yang sulit ditemui di tempat lain, sabra au bia misalnya. Tak banyak orang yang mengetahui makanan asal Papua ini. Namanya memang terkesan aneh bagi orang-orang yang bukan berasal dari kawasan timur Indonesia. Kalau tidak melihatnya, orang juga akan berpikiran bahwa makanan ini juga aneh. Apalagi, makanan orang-orang Papua juga dikenal tidak biasa bagi orang Indonesia pada umumnya. Tapi, kalau melihatnya langsung, sabra au bia terlihat sangat familier karena menyerupai kari. Tak heran, makanan yang berisi berbagai macam hidangan laut seperti ikan, cumu-cumi, kerang hijau, dan udang ini langsung disukai para tamu Taman Bumbu. Bahkan, ia menjadi salah satu makanan favorit bersama selada ikan telaga biru (Bali) dan ayam pringsewu (Jawa Tengah).
Uniknya, pada makanan ini juga akan dijumpai kecobrang, batang dari tumbuhan semacam lengkuas yang baunya sangat khas, mirip daun sirih. Pada zaman dahulu, orang Indonesia sering menggunakannya untuk obat. Jadi, menurut Pahyono, Chef Taman Bumbu Restaurant, makanan ini juga sangat baik untuk kesehatan.
Rasanya juga mirip dengan kari. Selain rasa gurih yang berasal dari santan kental, juga rasa pedas yang berasal dari bumbu cabai dan lada, serta rasa asam yang berasal dari irisan belimbing sayur dan air limau yang segar.

Berbagai Jenis Sambal
Hidangan favorit lainnya, selada ikan telaga biru, juga berisi hidangan laut yang sama. Bedanya, makanan asal Bali ini tidak berkuah, hanya dilumuri dengan bumbu pedas yang dicampur dengan minyak. Sama dengan makanan khas dari Bali pada umumnya, bumbu selada ikan telaga biru sangat terasa. Aroma bumbu pun semakin terasa karena seluruh bumbu tidak ada yang dimasak, hanya dicincang halus kemudian dicampur dengan salad oil yang nonkolesterol.
Saat makan siang yang selalu disajikan buffet, disajikan pula berbagai jenis sambal yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain sambal mangga (Jawa Barat), sambal kluwek (Pemalang), sambal tempe (Jawa), sambal kemangi (Makassar), sambal padang (Sumatra Barat), serta sambal paling favorit, sambal petai. Pahyono juga memiliki racikan sambal sendiri yang hanya dapat ditemukan di restoran ini, sambal ebi (udang kering).
Menyajikan makanan khas Indonesia justru membuat mereka sensitif. ”Kita menjual produk tanah air sendiri, produk itu sudah familiar bagi mereka (pengunjung). Jangan sampai mereka melihat rendang, tapi ternyata rasanya bukan rendang,” ungkap Bobby. Untuk menghasilkan rasa yang benar-benar Indonesia, mereka merekrut chef yang sudah sangat berpengalaman di bidang masakan tradisional Indonesia, Pahyono. Pahyono yang sudah berkarier 25 tahun sebagai juru masak serta 15 tahun mengkhususkan diri pada masakan khas Indonesia seringkali diminta untuk mempresentasi masakan Indonesia ke luar negeri.

Konsisten
Manajemen Taman Bumbu Restaurant berusaha konsisten dengan pilihan mereka. Jika menawarkan masakan khas Indonesia, penyajian dan suasananya pun harus khas Indonesia. Tak heran, ketika masuk ke restoran tersebut, pengunjung akan menemukan berbagai macam rempah khas Indonesia yang dibingkai dan menjadi pajangan dinding. Pohon pisang yang terdapat di dalamnya pun akan mendekatkan pengunjung pada alam Indonesia. Lebih lanjut, Bobby mengungkapkan mereka akan menambah desain interior dengan hal-hal yang berbau Indonesia. Di beberapa pojokan misalnya, akan ditambahkan lampu andong khas Jogja. Di beberapa bagian restoran akan dihiasi dengan kayu ukir khas Jepara. Jadi, sebelum masuk pun para pengunjung sudah merasakan suasana Indonesia.
Tak hanya tampilan interior restoran, mereka juga berencana untuk mengubah cara penyajian makanan-makanan mereka. Air putih, misalnya, di masa mendatang tidak lagi disajikan seperti biasa, tapi dengan kendi yang sangat khas Indonesia. ”Nenek moyang kita kan dulu kalau minum (mengambil) dari kendi. Nanti juga kami menyajikan air putih menggunakan kendi. Kalau orang Eropa punya tradisi menggunakan pitcher, kita juga punya tradisi sendiri menggunakan kendi. Kita juga punya culture yang bisa diadaptasi. Itu positif juga, orang overseas mengetahui bahwa tata meja orang Indonesia juga bagus,” kata Bobby lagi.
Untuk penyajian nasi timbel misalnya, tidak lagi menggunakan piring biasa, tapi dilapisi dengan daun layaknya tradisi penyajian nasi timbel. Bobby juga mengatakan akan mengubah penyajian nasi putih dengan memadatkannya seperti kue putu. ”Nanti Taman Bumbu akan sangat otentik, baik dari segi makanan maupun penampilan,” ujar Bobby. Nah, jika ingin merasakan masakan Indonesia yang berpenampilan Indonesia, Taman Bumbu Restaurant dapat menjadi pilihan. (str/mila novita)


Copyright © Sinar Harapan 2003

0 komentar:

Post a Comment